Minggu, 03 Februari 2013

MENUMBUHKAN PERCAYA DIRI KEPADA ANAK


Suatu ketika seorang balita, sangat cerdas, berbakat  tenis sejak kecil.  Tiba-tiba dia tak lagi mau berlatih tenis, prestasi sekolahnya pun menurun.   Sang ibu sangat gusar dan mencoba mencari apa penyebab sang buah hati menjadi demikian. Penyebabnya  hampir tak dimengerti oleh ibu tersebut .   Tanpa disadarinya dia sering memarahi dan menuntut serta memberi kritikan yang pedas  ketika hasil atau latihan tenis anak tidak baik. Bahkan ketika guru les memberikan laporan kepada ibunya bahwa sang anak mulai tidak mempunyai perhatian untuk belajar, ibu segera bereaksi untuk memarahi anak.  Bukan kritik yang membangun yang diberikan. Tapi kritik pedas dan makian serta marah yang diberikan oleh ibu membuat anak tak punya percaya diri kepada kemampuan yang dia miliki.  Sayang bukan?
             
Percaya diri bukan milik seorang dewasa. Seorang anakpun dalam perkembangannya harus mempunyai rasa percaya diri.
Apakah ciri-ciri seorang anak mempunyai rasa percaya diri?
1.   Tidak takut mengemukakan pendapat, baik itu salah maupun benar.
2.   Mampu mengatasi tekanan penolakan dari keluarga,teman,lingkungan sekitarnya. 
3.      Mampu mengatasi kesulitan tanpa merasa dunianya sudah runtuh karena sulit itu
4.      Berprestasi baik untuk menunjukkan bahwa dia anak yang melakukan terbaik

Percaya diri bukan sesuatu yang sulit dilakukan oleh orangtua kepada anaknya.  Namun, sering  terjadi orang tua tidak menyadari bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri kepada anaknya. Bahkan orangtua hanya membiarkan anaknya bertumbuh tanpa rasa percaya diri.   Dalam dunia yang penuh dengan tantangan, kompetisi, anak harus mampu mengatasi kesulitan dan mampu melihat potensi kemampuan yang dimilikinya.  Jika tidak, anak akan terlindas oleh orang lain yang memiliki rasa percaya diri.

            Orang tua tidak perlu memprotes apa yang tak disukainya.  Lebik baik menanyakan apa maksud anak melakukan hal itu atau mengatakan hal itu. Setelah mendapat masukan berikan rekomendasi bukan kritikan, apalagi kritikan yang pedas
.
1.      Disiplin dan konsisten
Dalam pengasuhan terhadap anak, orang tua harus punya pola pengasuhan disiplin dan konsisten yang tinggi.  Ketika orang tua telah menetapkan sesuatu aturan, katakan ibu minta kamu pulang malam paling lambat pukul 22.00. Jika ada masalah sebaiknya kamu memberitahukan dulu apa sebabnya.   Aturan ini jangan sampai dilanggar baik oleh ibu maupun anak itu sendiri.  Ketika anak pulang pukul 23.00 tetapi ibu tak menegur sama sekali bahkan tak memberikan sangsi, maka anak mengganggap aturan itu sebagai yang tak punya kekuataan hukum dari orang tua yang tak konsisten. Disiplin terus ditegakkan. Jika aturan dilanggar, anak harus mengetahui apa sanksinya. Bukan hukuman phisik tetapi hukuman tidak boleh mendapatkan apa yang dimintanya lagi.

2.      Menunjukkan bahwa anak mempunyai kemampuan
Anak saya ketika diterima sebagai murid cadangan  di sebuah Sekolah Menengah Atas ternama dan beragama , merasa tidak mampu mengalahkan teman-temannya yang diterima sebagai murid secara langsung.  Seolah-olah dia adalah anak “buangan”.  Saya terus memberikan motivasi dan menunjukkan kepadanya dia mampu menjadi murid yang berprestasi  setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahun diberikan motivasi dan bukti.
Tak ada yang tak dipungkiri ketika dia sendiri melihat dan membuktikan bahwa dirinya bukan murid buangan, ketika rasa percaya dirinya sudah mulai tumbuh.

3.      Tahan mengatasi kesulitan
Ketika percaya diri sudah tumbuh, akan datang kesulitan-kesulitan, apakah itu bentuknya pelajaran, adaptasi aspek kehidupan yang tak sesuai dengan keinginannya.   Tidak mudah bagi mereka yang tak punya percaya diri untuk menghadapi kesulitan. Mereka mudah gentar dan cepat putus asa.  Namun, bagi yang percaya diri, kesulitan adalah tangga suatu kesuksesan. Dihadapi dengan sangat tegar dan ketika dia telah dapat melewatinya, sukses akan menggapainya.


4.      Tidak mempermalukan didepan teman-temannya
Orangtua seringkali lupa jika dia ingin memberikan pendapat yang sifatnya merendahkan anaknya, dikatakan langsung dihadapan teman-temannya.  Bagi seorang anak, teman-temannya adalah “hero”. Jika dia mendapat pukulan didepan  orang yang dianggapnya sebagai “hero”, maka dia merasa hancur sekali .  Bahkan dia merasa tak berharga sebagai manusia.

5.      Jika ada kesalahan panggilah anak ditempat tertutup
Tentu seorang anak pernah berbuat kesalahan dalam perkataan atau perbuataan. Sebaiknya orangtua memanggil anak  dan membawanya di tempat yang tertutup.  Berbicaralah dari hati ke hati di tempat tertutup supaya anak lebih terbuka untuk mengatakan dan ibu dapat memberikan nasehat yang tepat dan leluasa tanpa meremehkan anak.

6.      Menghargai ide
Orangtua harus menghargai ide seorang anak.  Walaupun seorang anak itu belum berpengalaman tau belum mempunyai pengetahuan cukup, tetap saja dia adalah seorang ciptaan Tuhan yang idenya harus tetap dihargai.  Penghargaan akan membuat seorang anak menjadi dan merasa menjadi orang yang dipercayai.

Jakarta, 13 Desember 2012
Ina Tanaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar